Realitas yang tak tetap

sunya3.jpg  sunya.jpg  sunya4.jpg

Konsep dan Misi dalam karya Firman

Perupa muda yang berdiri di tengah pluralitas yang sangat kencang ini, memilih gambar dan grafis sebagai media ungkapnya, kendati pilihan idiom semakin beragam. Gambar-gambarnya memperlihatkan perunungan terhadap perubahan alam waktu ke waktu. Untuk menggali lebih jauh makna dibalik gambar itu, berikut dialog Galeri Lontar dengan Firman sekitar karyanya. Agar enak dibaca, dialog dibagi menjadi dua bagian. Pertama menyoroti sekitar bentuk karya, hasil wawancara Galeri Lontar dengan Firman. Sedang bagian kedua mengungkap soal konsep dan kontens dari karya tersebut. Dialog cukup panjang bagian dua ini, berisi pertanyaan-pertanyaan tajam dari curator Galeri Lontar Jim Supangkat kepada Firman.

Bagian I: Saya Berpegang pada Perubahan

Pada karya anda terdapat bentuk-bentuk distorsi atau terpiuh. Bisa anda jelaskan prosesnya?

Saya berangkat dari persoalan elementer, seperti: titik dan garis. Persoalan elementer itu apabila digarap dengan intens atau mendalam, bisa memberikan berbagai kemungkinan. Baik bentuk formal maupun informal. Nah… saya mulai bekerja dari persoalan seperti itu. DAlam karya saya, proses elementer ini mendapat perhatian lebih mendalam. Sehingga kerapkali terjadi improvisasi, dan bisa muncul bentuk yang kadang-kadang mengagetkan. Sebenarnya saya tidak terlalu menghiraukan – dalam pengertian terganggu oleh bentuk-bentuk yang muncul dengan sendirinya itu. Pada prinsipnya, proses pembentukan titik dan garis saya anggap lebih penting. Disitulah ekspresi tentang pergerakan, perubahan, ketidak-kekalan dan imajinasi yang selalu berubah-ubah, terus bermunculan. Sedangkan hasil akhir hanya merupakan akibat dari pergumula proses saja. Toh bagaimanapun juga saya harus berhenti pada satu titik, menganggap bahwa karya itu selesai. Sehingga saya akan mengulangi karya berikutnya, proses dari titik dan garis lagi. Setiap kali saya berhenti, saya menganggapnya telah cukup.

Mungkin karena bentuk realistic terbatas pada penyalinan bentuk. Lalu untuk menghinari kesan tersebut anda mencari pola lain.

Saya kira tidak, karena pada proses kerja saya, kadang-kadang wujud masih tampil, seperti: pohon, daun. Kadang-kadang wujud memang tidak tampil sepenuhnya, tapi hanya elemen-elemen saja. Seperti saya katakan bahwa bentuk akhir tidak menjadi penting buat saya. Proses perubahan itulah yang menjadi titik perhatian utama. Bentuk realistic kadang-kadang masih diperlukan, begitu juga yang bersifat imajinatif – semacam memberikan symbol-simbol. Artinya, hal imajinatif itu saya perlukan, karena ada impresi atau ekspresi yang akan saya tampilkan, sebagai perlambangan dan pencitraan.

Jadi bentuk-bentuk seperti: kepala burung, kepala manusia atau bentuk-bentuk mata itu memang untuk mensimbolkan sesuatu.

Ya.. keinginan semacam itu selau ada, tapi tidak sepenuhnya untuk itu. Saya berpegang kepada perubahan sebagai dasar berkarya. Atau dengan bahasa lain evolusi yang berlangsung terus-menerus. Ada perubahan yang pelan tapi pasti. Lalu, ketika saya mulai membuat sesuatu – yang bagaimanapun pencitraan atau abstraksi bentuknya, misalnya ketika saya membuat bentuk mata, terjadi semacam impresi dan ekspresi yang berbeda-beda. Buat saya itu suatu misteri, bisa juga semcam ritual saya terhadap rupa. Bentuk apapun yang dibikin, ketika diberi bentuk mata maka ada kesan seperti sesuatu bentuk makhluk, itu cuma gara-gara ada bentuk mata. Nah… kenyataan seperti itu banyak sekali pada prose drawing saya. Begitupun, ketika saya membuat gambar mulut, itu sudah mencitrakan makhluk lain lagi. Padahal hanya gara-gara ada bentuk mulut. Sehingga saya sering berfikir, bentuk-bentuk riil seringkali memanipulasi kenyataan. Jadi, impresi saya melihat adalah membiarkan kenyataan berjalan, berevolusi pelan-pelan. Oleh karena itu, dalam gambar saya kerapkali ada bentuk seperti: burung, kupu-kupu atau pohon. Saya biarkan saja itu.

Anda memang merencanakan bentuk-bentuk itu atau semata-mata muncul secara kebetulan saja.

Ada dua kemungkinan, pertama memang terencana membuat bentuk tertentu. Tapi lebih banyak bentuk-bentuk itu muncul secara tak terduga. Artinya mengalir begitu saja. Kalau kita mau melihat lebih njelimet, kadang-kadang hal terduga itu merupakan endapan alam bawah sadar – mungin itu yang muncul. Sepanjang proses bekerja, saya jadikan itu semacam metode meditative begitu. Disitu saya berkonsentrasi bagaimana mengorganisir titik-titik, garis-garis yang terus mengalir. Saya membuat beberapa karya menjadi symbol ritual.

Lalu soal kesadaran membangun citra, membuat sesuatu. Misalnya katakanlah ada bentuk-bentuk seperti kepala, mata dan sebagainya. Anda seperti ingin bercerita dibalik symbol-simbol itu?

Memang di dalam berkarya saya tidak linear seperti biasanya dilakukan orang. Artinya, saya tidak menetapkan pada konsistensi tema dalam berkarya, melainkan cara. Saya kira cara dan sifat saya berkaryan itu saja yang saya coba lakukan dengan konsisten.Sedangkan tema memang tak bisa dihindarkan, karena sebagai perupa saya juga berhubungan dengan masyarakat, dengan persoalan-persoalan orang banyak, kadang-kadang ada beberapa persoalan yang menggelisahkan diri saya. Dalam berkarya sering muncul  tiba-tiba kemarahan itu, dan saya lakukan lewat karya. Misalnya itu terlihat pada karya saya berjudul “Penyebar Kekacauan” atau “Oknum” itu. Saya melihat itu, karena ada persoalan di masyarakat yang membuat saya gelisah. Corak itu muncul namun tak terlalu sering. Hanya beberapa karya yang mempunyai tema seperti itu.

Apakah tema selalu menjadi bagian penting?

Tidak… Saya lebih yakin pada perubahan-perubahan mental, spiritual, dan imaji ketimbang tema. Jadi ketika situasi impresi saya mengatakan saya gelisah terhadap persoalan social, itu menjadi tema. Begitupun, ketika saya lebih tenang dan meditative, maka muncul judul-judul spiritual. Jadi sebenarnya saya lebih intens terhadap situasi daripada mengejar kedalaman tema atau obek, yang menjadi semacam cerita tertentu. Saya tidak tahu persis ya.. apakah itu suatu kesengajaan atau bukan. Seperti tadi, ketika ada kegelisahan saya terhadap masalah social dan dengan sendirinya ia menjadi tema. Tidak ada semacam keharusan membuat tema tertentu. Itu mungkin karena saya selalu mendisiplinkan diri harus bekerja. Dalam seminggu minimal tiga kali saya menekuni pekerjaan perupa ini – siang atau malam. Selain mengajar, saya punya kebisaan bekerja sendiri di studio. Mungkin intensitas kerja ini punya pengaruh besar. Bisa saja, ketika saya lagi nyaman dan tenang persoalan meditative yang muncul. Sebaliknya ketika saya sedang kesal dengan sendiri juga akan memepengaruhi situasi pekerjaan dan karya saya. Jadi saya mengikuti saja situasi kerja, tanpa harus merencanakan macam-macam, misalnya  besok saya harus bikin karya dengan tema ini atau itu. Tidak ada target-target seperti itu.

Karya anda lebih banyak menggunakan teknik grafis, pensil, pastel, tinta dan belakangan cat air.

Sejak lama saya memang berkarya grafis. Dan sampai hari ini masih membuat karya grafis. Kebetulan pada pameran kali ini, saya ingin menampilkan karya-kaya terbaru yang belum pernah dipamerkan, anatara lain cat air. Menurut saya, medium di atas kertas sudah menjadi bagian dominan dalam karya seni rupa, terutama di dunia timur – pada masa tradisional hingga modern. Dilihat dari situ, kita sudah lama akrab dengan media kertas. Jadi saya sebenarnya hanya mengulang keakraban itu saja. Mdah-mudahan ini bisa menjadi semacam pandangan, kembali ke medium yang pernah men-tradisi pada kita. Dalam pengertian, bahwa berkarya sebenarnya pakai media apa saja bisa. Nah.. ini saya pakai medium sederhana yang bisa di dapat dimana saja. Di dunia modern ini, kertas ada dimana-mana. Bahkan kertas yang saya pakai tak jarang pula merupakan kertas kasar masih kelihatan merangnya, yang di masyarakat kebanyakan berfungsi sebagai pembungkus.

Soal Idiom. Sekarang sudah sangat beragam sekali. Bahkan bisa dikatakan tak lagi ada batasnya. Misalnya ada seni instalasi, seni rupa pertunjukan dan lain-lainnya. Di tengah perkembangan dahsyat tersebut, kenapa anda masih bertahan dengan gambar? 

Dalam proses berkarya, saya tidak melihat harus bergantung pada trend yang tengah terjadi. Seperti saya katakan, bagaimanapun juga dibalik diri saya masih harus dipertanyakan, apa sih perjuangan saya dalam berkesenian. Itu yang saya bilang masih terus mencari semacam jawaban-jawaban, apa yang ingin diperjuangkan dalam kesenian ini. Bukan harus menemukan idiom-idiom baru, itu bukan persoalan saya. Biarlah orang lain melakukan itu, kan sah-sah saja. Buat saya, idiom apapun yang dimanfaatkan, kalau perjuangan keseniannya jelas, tetap akan dilihat dan punya makna.

Perjuangan dalam kesenian. Apa sesungguhnya yang anda maksudkan? 

Saya tidak tahu persis… ya. Apa yang harus menjadi pokok perjuangan kesenian itu. Yang menjadi menarik sebenarnya, dalam situasi semakin materialistis, orang hanya melihat persoalan materi saja. Apa sih yang harus saya perjuangkan melalaui hal-hak yang tidak materi – dalam pengertian berkesenian. Ini seringkali sangat mengganggu pikiran saya. Kekuatan atau kemampuan apa sih di dalam – katakanlah secara sosialisasinya, sumbangsih dari kesenian saya dalam masyarakat. Seringkali saya mentertawakan diri saya, apa benar mampu memperjuangkan sesuatu di masyarakat. Sementara alat yang dipakai hanya kesenian. Namun selalu saja ada harapan. Justru dalam situasi masyarakat yang hanya melihat materi, hanya melihat sesuatu yang pragmatis saja, saya bisa sedikit member semacam sumbangsih. Saya berharap, proses elementer dalam lukisan saya bisa menjadi bahan perenungan masyarakat sekarang. Apakah itu benar  secara riil berguna atau hanya perenungan saja, itu sudah bukan menjadi persoalan lagi. Minimal ada ruang, ada dimensi yang yang ditawarkan terus-menerus. Oleh karena ruang itu kini mulai mengecil volume-nya, ketimbang ruang-ruang yang menawarkan materi. Mungkin ada yang lebih jauh lagi, tapi saya tidak tahu, karena mengalami proses terus-menerus.

0 Responses to “Realitas yang tak tetap”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Hai … blogger,

Blog ini ingin menyajikan sosok Firman Lie sebagaimana adanya dia sebagai seorang perupa, seorang pendidik dan seorang manusia yang ingin bermakna pada kehidupan.

Foto Aktivitas

Doa-Kebahagiaan1

Pameran-berdua-di-Jambi

pameran-di-malaysia

pameran-di-japan-foundation

Metromini-2

pameran-tunggal-di-Japan-Foundation

horizontal

Simbol Ritual 2

kammaloka

Simbol Ritual 1

Lebih Banyak Foto

Jumlah Pengunjung

  • 12,812 pengunjung

%d blogger menyukai ini: