Komentar Asikin Hasan

doa-kebahagiaan1.jpg bingkisan1.jpg bingkisan.jpg

Keinginan mengungkapkan kegaiban alam sebagai fenomena sudah kerapkali muncul dalam eksplorasi tema seni rupa kita. Pertanyaan-pemertanyaan besar dan mendasar dibelakangnya, tak jarang  menjadi stimulasi yang menggerakkan pelukis berkarya. Tentu saja hasilnya kemudian bisa macam-macam mengikuti kecenderungan para penulis dan juga sumber inspirasi yang didapatnya. Ahmad Sadali mengspresikan hasil perenungannya tentang fenomena waktu dalam alam (proses dalam kehidupan) dengan mengutip potongan ayat-ayat suci Al-Quran. Pada kanvasnya meluncur corak abstrak-religius, yang mengembangkan bentuk-bentuk formalitas yang menyusupkan unsure kaligrafi Arab di dalamnya. Kebiasaan menyerap macam-macam sumber nilai seperti itu, adalah sah dalam seni rupa kontemporer.Tanpa maksud membanding-bandingkan, karya-karya yang dipamerkan di Galeri Lontar kali ini pun, memperlihatkan pula upaya mengungkapkan pengalaman serupaya itu. Firman, pegrafis yang berpameran, tidak bertujuan menyususn komposisi elemen-elemen rupa (mencari harmoni) pada  karya-karyanya yang semi abstrak. Bagian proses pembentukan elemen-elemen rupa itu merupakan medium meditasi. Lewat “perupaan” (menjadikan berupa) itu Firman menyodorkan sejumlah persoalan esensial – yang kerap kali luput dari kesadaran kita.Ia umpamanya, mempertanyakan kenyataan dalam kehidupan ini, apakah sesuatu yang kekal /absolute atau proses yang terus menerus berubah, tidak kekal dan tidak absolute. Ketika kita tenggelam dalam kesibukan sehari-hari dan melibatkan diri dalam modernitas yang belum lagi jelas jentrungannya, Firman mengingatkan kita kembali pada nilai-nilai mendasar. Bahwa semua itu bukan sebagai kondisi akhir, tapi gejala dari sebuah rangkaian kenyataan yang terus menerus berubah, saban waktu, tiap detik. Filosofi karya-nya memang diserap dari penggalian pemikiran yang memperlihatkan ketimuran, yang percaya pada “ke-tidak-kekalan”. Ia menghayati dan menerapkannya dalam mengamati kehidupan sehari-hari.Filosofi ini ter-refleksi pada bentuk-bentuk yang muncul pada karyanya, yang memperihatkan tanda-tanda perubahan yang terus menerus terjadi dalam alam makro dan mikro. Dan hamper semua bentuk dari karyanya didekati dengan distorsi yang mengingatkan kita pada gambar anak-anaknya yang umumnya tidak terikat pada konteks.Secara samar-samar bentuk-bentuk itu menyarankan bentuk kepala, mulut, tetumbuhan, dan hewan. Namun pada saat yang sama kita merasakan bentuk-bentuk itu, yang terpiuh, bukan suatu gambaran. Bentuk-bentuk itu dalam persepsi yang umum, lazim dikembangkan pada lukisan/gambar yang cenderung naratif  (agar konsep dan perenungan perupanya dapat diceritakan dengan leluasa). Pola ini pernah dikembangkan Picasso dalam lukisan “Le Guernica”. Pada lukisan itu, Picasso hendak mengungkap kekejian, kekuasaan dan perang. Selain menggunakan sejumlah symbol seperti banteng, ia menggambar sosok manusia secara datar (dua dimensi) dan tidak sempurna. Pada karya semacam ini memang tidak hendak mengedepankan aspek estetis yang biasa dianut orang banyak. Misi dan pesan dibalik lukisan, itulah sebenarnya yang utama. Memang kemudian kita bisa menemukan ruang untuk mengasosiasikannya pada sesuatu, yang setiap orang bisa membuat tafsiaran menurut persepsinya sendiri, secara bebas. Namun pada karya Firman kecenderungan yang bersifat naratif itu, ternyata tidak bercerita. Bentuk-bentuknya yang tidak mengikuti pola deformasi yang tetap mengekspresikan proses perubahan yang tanpa pola pula.Karya seni memang selalu membuka ruang untuk penafsiran, namun di sisi lain karya seni juga mengusung misi yang digariskan senimannya.Karena itu karya seni menuntut pula ditafsirkan menurut alur pemikiran senimannya. Di sini seniman menawarkan pandangan dan membuka diskusi. Diskusi ini upaya pemaknaan, dan apabila sesuatu makna bisa ditampilkan, kita dapat menyebut karya yang menjadi sumber makna itu sebagai karya yang bernilai.Melalui bentuk-bentuk terpiuh yang dirangkainya, Firman menawarkan pula diskusi panjang tentang alam dan keberadaan kita di dalamnya.  

0 Responses to “Komentar Asikin Hasan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Hai … blogger,

Blog ini ingin menyajikan sosok Firman Lie sebagaimana adanya dia sebagai seorang perupa, seorang pendidik dan seorang manusia yang ingin bermakna pada kehidupan.

Foto Aktivitas

Doa-Kebahagiaan1

Pameran-berdua-di-Jambi

pameran-di-malaysia

pameran-di-japan-foundation

Metromini-2

pameran-tunggal-di-Japan-Foundation

horizontal

Simbol Ritual 2

kammaloka

Simbol Ritual 1

Lebih Banyak Foto

Jumlah Pengunjung

  • 12,812 pengunjung

%d blogger menyukai ini: