Fashion dan Ekonomi

Hari Dharsono Hari Dharsono1Hari Dharsono 4Hari Dharsono 4

Pemahaman yang sederhana dalam perkenalan dengan makna kata “fashion”, Oxford English Dictionary (OED) bisa jadi titik pijak awal yang paling sederhana. Etimologi kata ini terkait kembali lewat bahasa latin, factio, yang berarti membuat atau melakukan. Karena itu, arti asli fashion mengacu pada kegiatan, fashion merupakan sesuatu yang dilakukan seseorang dan juga yang memaknai fashion sebagai sesuatu yang dikenakan seseorang. Karena itu, fashion dan pakaian mungkin merupakan cara paling signifikan yang bisa digunakan dalam mengkonstruksi, mengalami, dan memahami relasi sosial di kalangan manusia. Barang-barang yang dikenakan orang memberi bentuk dan warna pada pembedaan dan ketimpangan sosial.

Banyak arti berbeda dari kata “fashion” mulai dari “tindakan dan proses membuat”, “potongan atau bentuk tertentu”, hingga “tata cara atau cara bertindak” dan “berpakaian menurut konvensi”. Semua arti bisa kita kelompokkan menjadi kata kerja dan kata benda, mesti sulit untuk dipastikan, kedua arti itu muncul menjadi baku dalam bahasa Inggris pada pertengahan abad ketujuh belas. Sebagai kata benda, fashion berarti sesuatu seperti bentuk dan jenis, atau buatan atau bentuk tertentu, seperti dalam definisi sebagai “tata cara atau cara bertindak” yang dikemukan tadi. Di sini, fashion bisa saja dipandang sebagai sinonim dengan kata “cara” atau “prilaku”, yang familiar bagi kita. Dan sebagai kata kerja, fashion memiliki arti kegiatan membuat atau melakukan. Sebagai tambahan yang bisa dilengkapi dengan ide dan praktik fashion, fashion kerap digunakan sebagai sinonim dari istilah ‘dandanan’, ‘gaya’, dan ‘busana’ (Polhemus dan Procher, 1978: 9).

Kebanyakan orang merasa, pakaian yang mereka pakai serta kombinasinya, memiliki atau dapat memberi makna tertentu. Kebanyakan orang juga merasa senang dengan yang mereka beli dan berpakaian berdasarkan makna seperti yang mereka persepsi bagus atau benar. Dan, banyak orang merasa sangat gembira dengan membiarkan makna pakaian orang lain mempengaruhi cara mereka bersikap terhadap orang tersebut. Maka sudah menjadi klise menyatakan bahwa “pakaian yang kita kenakan mengungkapkan pernyataan”. Maka ketika melihat design-design Harry Darsono periode pertengahan 1980-an, dengan gaun yang bentuk rok dan lengan besar dan lebar, warna-warna yang kontras dan menyolok, ini memunculkan penandaan (signifikasi) yang menjadi tempat pembentukan dan pengkomunikasian pertumbuhan ekonomi sebagai petanda. Bagaimana penjelasan mengenai asal-usul pemaknaan seperti itu tampil sebagai representasi? (gambar no. 1)

Fashion, pakaian, dan busana dapat bekerja dengan berbagai cara yang berbeda, namun memiliki kesamaan bahwa beberapa cara diantaranya merupakan tempat tatanan sosial dan ekonomi dialami, dipahami, dan berlalu. Fashion dapat dianggap sebagai salah satu makna yang digunakan oleh kelompok masyarakat sosial dalam mengkomunikasikan identitas mereka sebagai kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya. Fashion bukanlah satu-satunya cara bagi individu untuk berkomuniasi, namun juga merupakan sarana bagi kelompok sosial untuk berkomunikasi dan melalui komunikasi di antara mereka muncullah suatu kelompok sosial.

Pikiran, perasaan dan keyakinan perancang Harry Darsono tentu tidak bisa sebagai sumber tunggal makna rancangannya, masalahnya adalah asal-usul makna tidak bisa hanya jadi pikiran dan maksud perangcang saja, pada saat tertentu, apa yang ada dalam pikiran perangcang X (dalam hal ini Harry Darsono) ketika dia produksi designnya Y akan tetap seperti yang dia pikirkan. Namun mengingat makna design berubah berdasarkan ruang dan waktu, maka makna yang datangnya dari perancang tidak bisa sama maknanya ketika sudah ada pada si pemakai, karena si pemakai akan memberi makna lain pada produk yang dipakai.

Secara terperinci, Barthes dalam bukunya Mythology menjelaskan bahwa sistem signifikasi tanda terdiri atas relasi (R = relation) antara tanda (E = expression) dan maknanya (C = content). Sistem signifikasi tanda tersebut dibagi menjadi sistem pertama (primer) yang disebut sistem denotatif (dalam hal design Harry Darsono adalah bentuk lengan besar dan warna yang kontras) dan sistem kedua (sekunder) yang dibagi lagi menjadi dua yaitu sistem konotatif (dalam hal ini, konsumen bisa atau boleh memaknai dengan caranya sendiri) dan sistem metabahasa. Di dalam sistem denotatif terdapat antara tanda dan maknanya yang datang dari si designer, sedangkan dalam sistem konotatif terdapat perluasan atas signifikasi tanda (E) pada sistem denotatif, yang bisa muncul dari si pemakai atau masyarakat. Sementara itu di dalam sistem metabahasa terhadap perluasan atas signifikasi makna (C) pada sistem denotatif (Roland Barthes, 2009: 158), yang mana ketika diamati pada tahun yang hampir bersamaan pada bidang ekonomi saat itu juga sedang mengalami pertumbuhan yang bagus tercatat pertumbuhan ekonomi sekitar 7 persen per tahun selama kurun waktu 1989-1993 dan pada periode 1994-1996 tercatat rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat lagi menjadi 7,9 persen per tahun. (sumber BPS: data pertumbuhan ekonomi 1980an).

Dalam konteks ini, ketika fashion sebagai produk kebudayaan, maka menjadi penting untuk melihat bagaimana fashion memproduksi dan mempertukarkan makna melalui praktik bahasanya. Desain fashion sebagai keluaran akhir dari praktik pertumbuhan ekonomi dapat dipahami sebagai produksi makna. Fashion merepresentasikan pikiran dan gagasan-gagasannya melalui bentuk dan warna yang dihadirkan ke ruang publik. Mengapa representasi menjadi penting dalam kaitan ini? Dalam konteks ini terlihat menarik untuk mempersoalkan landasan filosofis yang menjadi basis penggunaan istilah tersebut. Mula-mula penting untuk membedakan term representasi dengan refleksi dalam memahami kembali produk pakaian yang dilakukan. Seringkali penggunaan kata representasi ini diperlawankan dengan kata refleksi, karena keduanya memang keduanya mengimplikasikan pandangan yang berbeda terhadap realitas yang ditampilkan fashion (realitas kedua) dengan realitas yang sebenarnya (realitas pertama). Sebagian orang mengatakan bahwa apa yang tampil di pakaian merupakan ‘cermin’ realitas, dalam pengertian bahwa realitas yang tersaji di pakaian dinilai sama dengan realitas empirik. Fashion berperan sebagai reflektor yang bukan sekadar menghadirkan bentuk atau warna, tapi adalah refleksi empirik yang ada dan berlangsung dalam masyarakat (baca ekonomi)

Pada rancangan Harry Darsono ini bisa dilihat pada bentuk dan warna, bentuk lengan bahu yang didistorsi menjadi besar berlebihan dengan komposisi warna yang kontras (lihat gambar no. 1 dan gambar no. 2)

Acuan bentuk dan warna pada fashion sejenis ini jelas ingin memperkenalkan ide tentang kemewahan yang secara sadar maupun tidak sadar sedang merayakan pertumbuhan ekonomi di negara Indonesia pada pertengahan tahun 1980an. Tampak pada warna yang berani bertabrakan, terlihat pada relasi antara warna kuning di atas dan warna merah di bawah (gambar no. 2). Atau warna biru di atas dan warna oranye di bawah (gambar no. 1).

Acuan pada ekonomi memperkenalkan ide tentang otoritas secara umum sebagai sumber atau asal mula makna fashion atau pakaian. Bukan saja pertumbuhan ekonomi yang baik menjadikan konsumsi fashion dan pakaian meningkat tapi juga memunculkan penanda-penanda yang tertuang pada fashion yang dijadikan tempat melampiaskan kegembiraan yang meriah. Sekali lagi, otoritas eksternal memutuskan apa makna warna, pola, dan potongan. Keluar dari hidup sederhana, dengan merayakan fashion dan pakaian, bahkan tata rambut atau make up yang tidak biasa. (gambar no. 3 dan gambar no. 4)

Terkait dengan itu, Barthes mengemukakan teorinya tentang makna konotatif. Ia berpendapat bahwa konotasi dipakai untuk menjelaskan salah satu dari tiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua. Konotasi menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan perasaan atau emosi penggunanya dan nilai-nilai kulturalnya. Ini terjadi tatkala makna bergerak menuju subjektif atau setidaknya intersubjektif. Semuanya itu berlangsung ketika interpretant dipengaruhi sama banyaknya oleh penafsir dan objek atau tanda. Dalam tulisan ini fashion dan ekonomi saling mempengaruhi, antara dunia disainer dengan pertumbuhan ekonomi.

Bagi Barthes, faktor penting dalam konotasi adalah penanda dalam tatanan pertama. penanda tatanan pertama merupakan tanda konotasi. Jika teori itu dikaitkan dengan fashion, maka setiap bentuk dan warna merupakan pertemuan antara signifier (lapisan ungkapan) dan signified (lapisan makna). Lewat unsur visual (nonverbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami secara utuh. Inilah yang diperlihatkan Harry Darsono pada bentuk lengan yang lebar dan warna yang kontras, tabrakan dan tidak mengikuti harmoni warna secara teori warna. Ada semacam teriakan atau kegembiraan pada era pertumbuhan ekonomi yang mencapai 7,65 persen itu. Yang belum pernah dicapai Indonesia sepanjang sejarah.

0 Responses to “Fashion dan Ekonomi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Hai … blogger,

Blog ini ingin menyajikan sosok Firman Lie sebagaimana adanya dia sebagai seorang perupa, seorang pendidik dan seorang manusia yang ingin bermakna pada kehidupan.

Foto Aktivitas

Doa-Kebahagiaan1

Pameran-berdua-di-Jambi

pameran-di-malaysia

pameran-di-japan-foundation

Metromini-2

pameran-tunggal-di-Japan-Foundation

horizontal

Simbol Ritual 2

kammaloka

Simbol Ritual 1

Lebih Banyak Foto

Jumlah Pengunjung

  • 12,812 pengunjung

%d blogger menyukai ini: