Pengawas ada di mana-mana

Saat saya masih di sekolah dasar, tidak ada video amatir yang pernah saya tonton kecuali video hajatan nikahan. Itu pun hanya bisa dibuat oleh pembuat video yang masih tergolong profesional. Kondisinya jauh berbeda sekarang dengan begitu banyak orang menyimpan ponsel berkamera digital di sakunya masing-masing. Alangkah mudah video dibuat, untuk lalu disebarluaskan melalui jejaring sosial yang hanya membutuhkan beberapa kali klik. Kemudahan ini dipandang dengan penuh optimisme sebagai jalan pembebasan dan demokratisasi dengan kamera di tangan pemuda-pemudi Indonesia siap merekam keadaan sekitar untuk menampilkan kenyataan dan menghadirkan perubahan.

 
Teknologi memungkinkan orang-orang yang dulu dipandang sebagai pemirsa mengambil wewenang atas piranti produksi, menciptakan media mereka sendiri agar suara mereka didengar. Jurang antara produsen dan konsumen menyempit, membuahkan kemunculan suatu golongan baru “prosumen” dan kita tengah menyaksikan bentuk-bentuk baru ekspresi budaya dan pertukaran yang diorganisir secara demokratis dan kolektif, bukan dari atas ke bawah.

 
Segala hambatan institusional telah rontok, tak ada lagi kendala biaya (tingginya biaya produksi + perhitungan untung rugi dari jumlah penonton), tak ada lagi kendala kurasional (baik oleh juri festival, badan sensor film dan televisi, kritikus dll). Seamatir apapun seseorang, ia boleh dan berhak merekam video yang ia mau dan mengunggahnya ke YouTube. Apa-apa yang dulu hanya untuk dokumentasi pribadi (misalnya rekaman pesta ultah anak) atau kelompok kecil tertentu (misalnya makan siang bersama di suatu kantor) semuanya diunggah untuk bisa dilihat siapa saja, Tak perlu lagi berjuang secara profesional di Jakarta untuk menjadi selebritis nasional, cukup dari daerah masing-masing dengan webcam atau kamera ponsel, Sinta dan Jojo dari Bandung dan Briptu Norman Kamaru nun jauh di Gorontalo telah membuktikan keampuhan jejaring sosial untuk meroketkan mereka secara instan ke ketenaran.
Amatirisme macam ini belakangan bahkan telah menjadi semacam genre tersendiri. Industri televisi diramaikan oleh reality show yang lebih banyak menampilkan orang-orang biasa ketimbang pesohor, atau pesohor yang dijerumuskan di tengah situasi keseharian orang-orang biasa. Dan dampak amatirisme ini paling mencolok dirasakan dalam pornografi.

 
Kepolosan dan kejujuran ekspresi inilah yang dicari orang dari video amatir, hal ini pula mungkin yang bisa menjelaskan popularitas Sinta dan Jojo serta tidak populernya video skandal seks ketua DPD PDI-P Jawa Barat Rudy Harsa Tanaya. Mengenai Sinta dan Jojo, harian berbahasa Inggris The Jakarta Globe menengarai dengan jitu bahwa ekspresi kedua cewek itulah (“cekikikan, meringis, menggeram, mencibir, menggeliat-geliut, tertawa terkekeh-kekeh”) yang membuat pengguna internet “going crazy” melihatnya. Sebaliknya dalam kasus video seks Rudy Harsa, sekalipun media massa meliputnya dan potensi kehebohan politik yang bisa disulut oleh video ini amat besar, namun kasusnya sendiri tidak membesar seperti skandal video seks lainnya (anak ITENAS, Yahya Zaini, atau Ariel). Saya duga, salah satu penyebabnya adalah karena wajah si perempuan dengan cerdiknya tidak terlihat dalam rekaman (ia tidak menoleh ke kamera dan selalu menutupinya dengan selimut). Orang tidak mendapatkan ekspresi yang diharapkan ada dalam sebuah video (skandal) seks.

 
Begitulah perkembangan video amatir maupun televisi yang tumbuh terus, ketika suatu hari pengambilan gambar acara kuliner yang terkenal dengan sebutan ‘maknyus’ itu, ada seorang pria di sebuah restoran marah besar ketika para awak kru melakukan pengambilan gambar sambil mencengkeram kerah baju si pembawa acara, pria itu berkata televisi tidak boleh seenaknya mengambil gambar seseorang di tempat umum tanpa izin orang yang terekam. Usut punya usut, kata Bondan si pembawa acara tersebut, ternyata pria di restoran tersebut sedang makan bersama selingkuhannya.

 
Inilah soal penting untuk diulas acara-acara sejenis lainnya yang merayakan keberadaan video dalam masyarakat, yakni apakah semakin merebaknya perangkat video (kamera digital, ponsel berkamera, dan sebagainya) dalam tubuh suatu masyarakat akan kian mendemokratiskan masyarakat itu atau justru membuatnya menjadi sejenis totalitarianisme baru dalam bentuk “masyarakat mata-mata”, di mana tiap orang bisa saling mengintai dan merekam, sementara batas antara yang publik dan yang privat, antara transparansi dan privasi, belum terumuskan dengan jelas—suatu kondisi panoptis sebagaimana pernah dipikirkan oleh Jeremy Bentham dan dipopulerkan kembali oleh Michel Foucault.

 

Gagasan tentang sistem panoptis berlaku untuk masyarakat secara luas, bukan terbatas dalam rumah sakit atau penjara. Melalui panoptismelah masyarakat mengalami pendisiplinan tubuh atau kontrol sosial. Dan melalui perkembangan teknologi, terutama kamera CCTV (closed-circuit television), sistem ini mencapai bentuk kontemporernya dengan melepas diri dari keterikatan fisiknya sebagai sebuah “konstruksi arsitektur”. Panoptikon kini bisa terbentuk di mana saja tanpa keharusan mengikuti struktur Bentham.
Pada paruh kedua 1990an misalnya, saya suka berjalan-jalan di daerah Menteng saat malam, kadang berhenti berlama-lama di depan rumah-rumah lawas tertentu yang saya kagumi arsitekturnya. Sampai pada suatu saat saya sadari di depan suatu rumah di Jl. Sutan Sjahrir gerak-gerik saya diikuti oleh sebuah kamera CCTV. Sejak itu, saya selalu “menjaga sikap” tiap kali berjalan melewati rumah itu. Saya pun mengalami pendisiplinan tubuh, bahkan tanpa tahu apakah benar kamera itu betul-betul berfungsi, atau apakah memang selalu ada penjaga rumah yang memantaunya. Keberadaan kamera itu sendiri cukup untuk membuat saya merasa selalu diawasi. Semakin si pemantau tidak hadir dan keberadaannya tidak bisa saya verifikasi, justru membuat si pemantau itu semakin tampak serba hadir.

 

Si pengawas tampak kelihatan serba hadir justru bila ia tidak kelihatan benar-benar hadir. Sekalipun si pengawas sudah meninggalkan pengawasannya sama sekali, sejak saat itu masing-masing tahanan atau pegawai bank misalnya, akan merasa si pengawas tengah memantaunya, padahal masing-masing merekalah yang sedang memantau dirinya sendiri. Dengan demikian disiplin menjadi terinternalisir, sementara si pengawas sendiri jadi mubazir. Dengan demikian, kesan akan kemahahadiran si pengawas dan gagasan akan pengawasan konstan telah dihasilkan dalam benak para tahanan atau pegawai bank atau siapa saja.

 
Kamera, dengan demikian, berfungsi sebagai sang pengawas. Dalam rentang bertahun-tahun ketika masyarakat mengenal kamera (beserta segala output-nya: foto atau film), tubuh telah mengalami pendisiplinan tersendiri terhadap perangkat ini. Kita jadi “sadar kamera”. Gerak dan gestur tubuh berubah, baik rikuh, berlagak cuek, berpura-pura serius, maupun bergaya konyol, sebagai bentuk reaksi yang begitu organik dari kesadaran akan adanya kamera yang sedang menyorot tubuh kita.

 
Selama ini konsep panoptikon lebih banyak dikaitkan dengan pengawas dari suatu aparatus kekuasaan besar untuk mengawasi satuan-satuan yang lebih kecil di dalam sebuah struktur. Misalnya kamera CCTV di pasar swalayan, bank, ATM, atau pengawasan intelijen atas tindak tanduk masyarakat.

 
Namun demikian, persoalan pengawasan pada zaman ini saya rasa tidak bisa lagi dilihat dalam sistem relasi kuasa yang terbilang sederhana, ada penguasa yang hendak memantau ketat kehidupan seluruh warganya. Mengapa demikian? Pertama-tama jelas karena kamera kini benar-benar telah menjadi sesuatu yang ada di mana-mana dalam kehidupan kontemporer. Kepemilikannya tidak lagi bersifat terpusat dan sembarang orang, nyaris secara acak, bisa mengoperasikan mesin tersebut. Dan yang lebih penting dari itu, kekuasaan itu sendiri, sesuai analisa Foucault, sesungguhnya tidak pernah tunggal dan tersentral. Semakin mudah diaksesnya perangkat perekaman oleh masyarakat luas membuat proses perlawanan terhadap pengawasan yang selama ini berjalan satu arah dari atas ke bawah juga semakin mudah dilakukan.

*Tugas esai

0 Responses to “Pengawas ada di mana-mana”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Hai … blogger,

Blog ini ingin menyajikan sosok Firman Lie sebagaimana adanya dia sebagai seorang perupa, seorang pendidik dan seorang manusia yang ingin bermakna pada kehidupan.

Foto Aktivitas

Doa-Kebahagiaan1

Pameran-berdua-di-Jambi

pameran-di-malaysia

pameran-di-japan-foundation

Metromini-2

pameran-tunggal-di-Japan-Foundation

horizontal

Simbol Ritual 2

kammaloka

Simbol Ritual 1

Lebih Banyak Foto

Jumlah Pengunjung

  • 12,812 pengunjung

%d blogger menyukai ini: