Proses Kreativifitas Dalam Kolaborasi Seni Pertunjukan

Kegiatan kolaborasi seni, terutama pada seni pertunjukan merupakan aktifitas kerja sama, interaksi dan penggabungan antara unsur-unsur seni maupun para pelaku seni (seniman) yang menghasilkan suatu bentukan yang mungkin baru.

Dengan adanya kolaborasi seni akan menghasilkan karya seni yang mampu merefleksikan konsep dan tehnik dari masing-masing unsur seni untuk komunikasi, eksperimen, berkolaborasi menuangkan ide-ide dan menjembatani antara wacana pemikiran dari berbagai disiplin ilmu.

Praktek kolaborasi seni yang dilakukan 2 seniman atau lebih harus diawali rencana yang jelas untuk apa, bagaimana, dan di mana pertunjukkannya akan dilakukan. Dan Pak Sal Murgiyanto mengatakan dalam kolaborasi yang baik hendaknya kesetaraan antara seniman yang mau melakukan kolaborasi, baik tehnik maupun konsep kedua seniman yang melakukan kolaborasi harus setara kemampuaannya. Kalau tehnik tidak setara maka seniman yang menjalankan kolaborasi hendaknya mau menyesuaikan karena kalau tidak maka kolaborasi akan menjadi ekploitasi yang tehniknya lebih baik ke yang lebih lemah. Sebuah kolaborasi sebagai komunikasi, saling menghargai dan tendensi pengetahuan akan kebudayaan yang lain. Tidak menggunakannya secara sepihak sebagai bentuk eksploitasi saat berkolaborasi terdapat konflik dan perbedaan pemahaman, bahkan bisa membuat seniman yang sedang berkolaborasi menjadi putus asa menghadapi proses kolaborasi. Seniman yang sedang berkolaborasi hendaknya saling menyadari bahwa perlu adanya pengertian dan toleransi agar kolaborasi dapat terwujud.

Menurut Sal Murgiyanto kolaborasi bisa dilakukan secara lintas disiplin tari, musik dan seni rupa. Begitu juga bisa melintas ke aras budaya seperti pengabungan budaya India, Bangladesh, Lebanon, Eropa, China dan seterusnya. “Kolaborasi lintas budaya penting, karena dengan mempelajari budaya orang lain, kita akan lebih tahu budaya kita sendiri, “kata Sal. Sebuah kolaborasi merupakan proses penciptaan dan negosiasi dalam pengambilan keputusan. Hal itulah yang menjadi pembelajaran penting bagi pelaku seni pertunjukan dalam proses kreatifitas berkolaborasi.

Setiap tradisi memiliki kriteria atau pedoman tentang sebuah tarian yang baik, juga memiliki tatanan struktur dan teknik penyusunan, ada pula tata cara menggunakan perbendaharaan gerak yang ditandai dengan cara penggunaan ruang, ritme atau dinamika khas tradisi yang dimiliki. Ada pula kolaborasi ingin mencapai keberhasilan dalam membuat tarian gaya tertentu untuk mempertahankan (atau mengembangkan) tujuan ekspresi tertentu.

Pemahaman seniman yang terlibat dalam kolaborasi hendaknya mengerti kenapa kolaborasi tersebut hendak dilakukan bersama. Dengan memahami bahwa aras budaya setiap tempat memiliki tradisi yang khas dan tradisi turunan itu sendiri selalu ingin diciptakan kembali dengan tetap mempertahankan berbagai tatanan dan aturan tradisi. Dengan demikian para seniman yang berkolaborasi itu tentulah harus mempelajari terlebih dahulu tradisi masing-masing agar dapat mencapai pemahaman terhadap makna bentuk yang mungkin terlahir dari proses kreatif kolaborasi nantinya.

Dalam koreografi modern, masalah bukan memilih antara “craft” dan “process” tetapi bagaimana memadukan keduanya, dan suatu koreografi yang berhasil selalu mencakup dunia (“craft” dan “process”) integrasi keduanya di dalam kolaborasi sangat penting. Menurut pak Sal Murgiyanto, baik di dalam ruang kelas maupun di dalam dunia kesenian “craft” paling bermanfaat jika berhasil digunakan untuk mentransendenkan obyektivitas; “craft” harus dilihat sebagai perkembangan wajar dari elemen-elemen subyektif. Hanya dengan tindakan seperti ini seniman yang sedang berkolaborasi benar-benar dapat mempertahankan integritas artistiknya.

Bentuk estetik yang berkembang pada setiap periode tentulah memiliki tatanan dan aturan yang berbeda, ekspresi individual dapat sangat menonjol misalnya pada perkembangan seni modern yang membebani nilai universalisme itu. Selanjutnya seorang seniman –penata tari- telah menguasai bentuk dengan baik, ia tak perlu lagi risau dengan isi (content) yaitu realitas paling subyektif dari kolaborasi yang dialami dalam proses kreatif.

Penekanan proses kreatif dalam sebuah kolaborasi perlu disepakati pentingnya “struktur” dalam koreografi (penciptaan) terhadap kecenderungan masanya. Sebagai sebuah pemikiran, kala itu, bentuk seni modern yang baru lahir, tari modern memuja “kebebasan individual tanpa batas” sehingga melupakan struktur dan bentuk artistik. Tapi kini, sebuah kolaborasi harus dimulai dari sebuah benih gagasan. Menurut pak Sal Murgiyanto seniman yang sedang berkolaborasi harus mulai dengan tugasnya dengan mencari inspirasi dengan cara mengalami, dunia kehidupan lahir dan batin, gagasan, perasaan, dan pengalaman secara mendalam. Tugas penting dari sebuah kolaborasi adalah mewujudkan hasil penjelajahan proses kreatif tersebut ke dalam momen-momen realisasi untuk kemudian memproyeksikan realisasi-realisasi ke dalam bentuk-bentuk yang komunikatif.

Proses kreatif lebih mengusahakan integrasi antara ide dan bentuk. Pentingnya kemampuan tehnik dalam penciptaan inilah yang banyak ditekankan oleh banyak pendidikan, dengan latihan-latihan tertentu dapat dilakukan untuk meningkatkan ketrampilan seseorang dalam merangkai elemen-elemen penciptaan.

Studi komposisi yang bertolak dari penjelahan tehnik gerak, ritme, struktur, dan berbagai bentuk stimulasi visual, bunyi, bau, dan ruang. Dalam proses kreatif berkolaborasilah dapat memperkenalkan berbagai aspek bentuk seni. Yang penting adalah aspek kesatuan atau kesatuan keutuhan yang merupakan hasil dari pengorganisasian banyak ragam, yang mencakup unsur-unsur variasi, kontras, klimak, transisi, keseimbangan, sekwen, repetisi, dan harmoni.

Proses kreatif dalam kolaborasi menjelaskan aspek perasaan, banyak yang sering mengacaukan antara proses dan produk kreativitas. Penciptaan sering dikatakan mendapatkan inspirasi yang bersifat sangat pribadi, eksplosif, dan berkaitan dengan proses batin. Apapun cara mulainya sebuah proses kreatif tentulah harus diwujudkan menjadi karya, produk atau karya yang mampu menceritakan kepada banyak kalayak tentang inspirasi atau proses kreatif seniman, dan bahwa intuisi di dalam kesenian sesungguhnya adalah hasil dari sebuah latihan yang sangat lama.

Sebagai akhir resume esay ini saya ingin mengatakan aspirasi untuk membuat segala-galanya baru sangatlah tidak realistik dalam proses kreatif berkolaborasi. Seniman tak akan dapat bergerak ke tempat lain kalau tak memiliki dasar pijakan yang jelas. Sekali lagi proses gagasan dan kemampuan menciptakan merupakan suatu yang integra dalam karya yang baik.

Tulisan esai ini adalah tugas kuliah S2 ku di IKJ

Jakarta, 22 Maret 2012

0 Responses to “Proses Kreativifitas Dalam Kolaborasi Seni Pertunjukan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Hai … blogger,

Blog ini ingin menyajikan sosok Firman Lie sebagaimana adanya dia sebagai seorang perupa, seorang pendidik dan seorang manusia yang ingin bermakna pada kehidupan.

Foto Aktivitas

Doa-Kebahagiaan1

Pameran-berdua-di-Jambi

pameran-di-malaysia

pameran-di-japan-foundation

Metromini-2

pameran-tunggal-di-Japan-Foundation

horizontal

Simbol Ritual 2

kammaloka

Simbol Ritual 1

Lebih Banyak Foto

Jumlah Pengunjung

  • 12,812 pengunjung

%d blogger menyukai ini: