Hermeneutika Sebagai Piranti Analisis Dimensi Nilai Budaya

Pendahuluan

Secara semiotik apapun yang hadir di hadapan kita adalah teks dalam bahasa. Teks itu pada dasarnya berdiri sendiri tanpa makna. Maka untuk memahaminya, teks tersebut sangat tergantung pada pemaknaan. Dan pemaknaan itu bisa terjadi karena ada subyek pemberi makna dan ada konteks yang mengitari teks tadi. Jadi, antara subyek, teks dan konteks adalah tiga hal yang tidak dapat diabaikan dalam dunia hermeneutika.

Hermeneutika, meskipun merupakan salah satu aliran filsafat yang sudah tua, kini diangkat kembali sebagai sebuah pendekatan dalam berbagai kajian, terutama dalam kajian teks-teks keagamaan kuno semisalnya. Hermeneutika dianggap sebagai pendekatan yang tepat karena ia mampu mendekatkan pemahaman pembaca dengan teks yang sudah jauh melampaui zamannya. Demikian hermeneutika mengingatkan kita pada istilah-istilah dalam penafsiran kitab-kitab kuno yang juga berusaha membawa teks kepada pemahaman yang paling dekat dengan pembaca.

Sebagaimana dalam dunia tafsir kitab-kitab suci, dunia hermeneutika juga tidak lepas dari problema ketika subyek berhadapan dengan teks yang penciptanya tidak hadir bersama dengan teks. Mungkinkah sebuah interpretasi atas teks dapat dijamin kebenarannya atau bisakah sebuah apresiasi atas teks semacam itu sama dengan apa yang inginkan oleh penciptanya. Itulah problema-problema yang harus dipecahkan oleh hermeneutika; bahwa ia harus selalu memburu teks untuk memecahkan gagasan-gagasan yang dimaksud oleh pengarang atau pencipta. Karena teks tersebut ingin dinegasikan dengan pengarang, maka hermeneutika juga harus bersentuhan dengan bahwa (semantik) sebagai media komunikasi.

Dari sini, baiknya pembicaraan tentang hermeneutika dalam diskusi ini difokuskan pada persoalan: Apa sesungguhnya hermeneutika itu? Dan bagaimana metode hermeneutika diterapkan sebagai sebuah pendekatan?.

Apa Itu Hermeneutik?

 Kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein berarti menafsirkan, maka kata benda hermeneutika secara harfiah berarti penafsiran. Menurut istilah hermenetik adalah proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti.

Hermeneutika atau metode tafsir, meskipun merupakan topik tua, akhir-akhir ini telah muncul sebagai sesuatu yang baru dan menarik dalam teks-teks kitab suci maupun sastra dan ilmu sosial.

Kata hermeneutika berasal dari kata kerja dalam bahasa Yunani hermeneuin yang berarti “menjelaskan”, “menerjemahkan” dan “mengekspresikan” (Edwards, 1967), kemudian berkembang menjadi cabang ilmu dan filsafat yang menyelidiki syarat-syarat dan aturan-aturan metodis yang dibutuhkan, baik dalam usaha memahami makna sebuah teks maupun dalam menafsirkan isi sebuah teks; apabila makna itu tidak jelas (Palmer, 1969).

Hermeneutika pada awalnya berhubungan dengan teks tertulis, yang harus ditangkap maknanya berdasarkan hubungan-hubungan kebahasaan yang ada dalam teks, konteks dimana teks tersebut diciptakan atau hubungan antara teks dan situasi kondisi pengarangnya. Dengan demikian teks bisa dilihat dalam berbagai hubungan yang berbeda, sekalipun berkaitan satu sama lain. Jadi sebuah teks bisa dilihat dalam hubungan dengan dirinya (aspek tekstual), bisa pula dilihat dari hubungan dengan pengarang (aspek autorial) dan bisa dilihat pula dalam hubungan dengan konteks di mana teks tersebut diciptakan atau diproduksi (aspek kontekstual) atau dalam hubungan dengan pembaca teks (aspek reseptionis).

Dalam bahasa lisan hermeneutika dianggap tidak berperan, karena hubungan langsung antara pembicara dan pendengar membuat hal yang tidak jelas menjadi jelas dengan tanya jawab. Jadi hermeneutika berurusan dengan pengertian makna sebuah teks tertulis, maka diajukan interpretasi sebagai jalan untuk memperbaiki dan memulihkan pengertian yang terhalang dalam menangkap makna teks tersebut.

Dalam sejarah perkembangannya, hermeneutika mengalami beberapa tahap perkembangan. Pada awalnya, hermeneutika muncul sebagai metode eksegesis untuk menafsirkan teks kitab suci, lalu berkembang menjadi metode filologi untuk menafsirkan teks-teks sastra klasik Yunani dan Latin.

Selanjutnya untuk Scheiermacher metode ini dibakukan menjadi metode interpretasi yang tidak hanya terbatas pada kitab suci dan sastra klasik. Dilthey (1962) kemudian menerapkannya menjadi metode sejarah. Sedangkan Gadamer (1975) menjadikannya sebagai metode filsafat dan pada pada perkembangannya, saat ini sebagai sebuah metode baik untuk filsafat, teologi, maupun untuk ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu humaniora.

Tentu saja pendekatan hermeneutika hanya salah satu dari jalan-jalan yang tersedia dalam ilmu humaniora untuk mendekati persoalan makna sebuah teks tertulis. Tulisan ini dilakukan sebagai usaha melihat dan memahami sebuah teks dengan bantuan teori yang dikenal, karena dalam membaca sebuah teks, bantuan teori seringkali sangat besar manfaatnya dalam memahami sebuah teks tertulis yang bersifat umum, seperti al-Qur‘ân, teori Gadamer dapat dipakai.

Penggunaan Hermenetika dalam penelitian teks keagamaan dapat dilihat misalnya . karya Fakhruddin Faiz, yang berjudul Hermeneutika Qur‘âni dalam tafsir al-Manar dan tafsir al-Azhar. Menurut Fakhruddin Faiz, kedua tafsir tersebut bercorak hermeneutik, sebab kedua tafsir tersebut dari aspek teks, kontek, dan kontektualisasi kedua tafsir tersebut amat kental, walaupun tak dapat diingkari bahwa ketiga aspek tersebut masih jarang dapat berjalan secara bersama-sama.

Selanjutnya menjadi tergeneralisasi menjadi sebuah metode interpretasi tekstual yang tidak dibatasi karya relijius. Oleh Schleiermacher dan Dilthey, digeneralisasikan lebih jauh untuk diaplikasikan pada tindakan manusia (Palmer, 1969). Ketika penelitip mengadopsi sebuah pendekatan hermeneutika pada perilaku manusia, peneliti secara esensial memperlakukan tindakan yang memiliki kesamaan dan sruktur “tekstual”. Perbedaan pemahaman asal “obyek” penelitian adalah salah satu dari beberapa perbedaan diantara hermeneutik dan dua paradigma mutakhir dominan penelitian dan penjelasan ilmu sosial dan di dalam psikologi secara penting: pendekatan rasionalis dan empiris.

Sejalan dengan perkembangan dalam memanfaatkan hermenetika dalam ilmu sosial, Heidegger menjelaskan bahwa hermenetika fenomenologi adalah metode investigasi yang paling tepat untuk penelitian terhadap perilaku manusia (psikologi). Metode ini adalah sebuah perkembangan inovatif fenomenologi Edmund Husserl ( contoh 1931). Hermeneutika mengikutsertakan tujuan untuk mendeskripsikan dan mempelajari fenomena manusia yang bermakna di dalam aturan yang rapi terjaga dan detail sebebas mungkin dari asumsi teoritis tertentu, berdasar dari pemahaman praktis.

Metode Heidegger adalah “ hermeneutik” karena terdapat kebutuhan untuk interpretasi ketika pengalaman tengah diuraikan. Peneliti dapat mengapresiasi dengan baik karakter pendekatan hermeneutik dengan membandingkan dan mengkontraskannya dengan rasionalisme

Tentang makna hermeneutika, Zygmunt Bauman, seperti yang dikutip oleh Komaruddin Hidayat, mengatakan: “hermeneutika adalah upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, remang-remang dan kontradiksi sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi pendengar atau pembaca”

Sampai di sini, upaya pemaknaan semacam ini juga dikenal dalam tradisi intelektual Islam, yaitu apa yang disebut dengan ilmu tafsir. Ditambah lagi dengan keterangan bahwa pada perkembangan awal, hermeneutika memang hanya digunakan sebagai upaya memahami teks-teks Bibel. Kemudian pada abad ke-18, Frederich Ernst Daniel Schleiermacher (1768-1834) mengembangkan pendekatan hermeneutika dengan melakukan kombinasi historis, yaitu melakukan rekonstruksi historis atas sebuah teks. Kemudian dianjutkan dikembangkan oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911) dengan melakukan rekonstruksi metodologis atas hermeneutika dan melahirkan sebuah pendekatan kiritik sejarah dengan pendekatan hermeneutika. Hingga sekarang, Hermeneutika dianggap sebuah pendekatan yang sangat luwes dan open-minded sebab kebenaran yang diperolehnya tergantung pada orang yang melakukan interpretasi.

Hermeneutika Sebagai Suatu Pendekatan

  1. Wilayah Pendekatan Hermeneutika.

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, sasaran operasional hermeneutika sebenarnya selalu berhubungan dengan proses pemahaman (understanding), penafsiran (interpretation) dan penerjemahan (translation). Karena itu, pada dasarnya wilayah yang dapat didekati dengan hermeneutika adalah teks yang tertulis. Tapi kemudian muncul persoalan ketika pemahaman dilakukan pada teks tanpa tuan, apakah pemahaman hanya terbatas pada teks yang nampak atau mesti melibatkan aspek psioko-histiris penulisnya. Di sinilah muncul dua aliran mazhab, yaitu mazhab hermeneutika transendental dan historispsikologis. Yang pertama berpandangan bahwa untuk menemukan sebuah kebenaran dalam teks tidak harus mengaitkan dengan pengarangnya karena sebuah kebenaran bisa berdiri otonom ketika tampil dalam teks. Yang kedua berpandangan bahwa teks adalah eksposisi eksternal dan temporal semata dari pikiran pengarangnya, sementara kebenaran yang hendak disampaikan tidak mungkin terwadahi secara representatif dalam teks. Mazhab inilah yang diperjuangkan oleh Schleiermacher dengan teorinya gramatical understanding (pemahaman gramatikal) dan psychological understanding (pemahaman psikologis).

Tapi dalam perkembangan selanjutnya, wilayah hermeneutika tidak lagi terbatas pada dua mazhab di atas, akan tetapi telah diintegrasikan dalam berbagai disiplin ilmu. Para ilmuan seperti sosiolog, antropolog, ekonom, sejarahwan, teolog, filosof dan para sarjana agama menggunakan hermeneutika dalam disiplin ilmunya. Maka lahirlah, misalnya pertama, teori baru tentang perilaku manusia (human behavior) dalam ilmu jiwa yang dipahami sebagai pengaruh dan manifestasi perasaan akibat intres sistem klas dalam masyarakat. Kedua, pengembangan epistemilogis atas filsafat bahasa yang mengklaim bahwa apa yang disebut dengan “realitas kultural” sebenarnya adalah sebuah fungsi struktur bahasa yang didasarkan pada pengalaman. Ketiga, argumentasi tertinggi di kalangan filosof semisal Ludwig Wittengstein dan Martin Heidegger, bahwa semua pengalaman manusia pada dasarnya adalah sebuah penafsiran. Bahkan, hermeneutika juga digunakan dalam sosiologi interpretatif.

Dengan demikian, semakin meluasnya wilayah pendekatan hermeneutika, maka klasifikasi studi hermeneutika juga menjadi terbagi, yaitu:

  1. Exegesis (tafsir atas Bible).
  2. Philology (interpretasi atas berbagai teks sastra kuno).
  3. Technical Hermeneutics (interpretasi atas penggunaan dan pengembangan kaedah-kaedah bahasa).
  4. Philosophical Hermeneutics (interpretasi atas sebuah pemahaman esensial).
  5. Social Hermeneutics (interpretasi atas perilaku manusia baik individu maupun sosial)

Nampak dengan jelas bahwa meskipun pada awalnya wilayah operasional hermeneutika terbatas pada teks-teks kitab suci semata, tetapi pada perkembangan selanjutnya hermeneutika telah dibawa memesuki wilayah-wilayah lain dan ternyata mampu diaplikasikan secara ilmiah.

Langkah-Langkah Pendekatan Hermeneutika

Dibandingkan dengan metode fenomenologi yang mencoba mengungkapkan dan mendiskripsikan hakekat agama, maka metode hermeneutika mencoba memahami kebudayaan melalui interpretasi. Karena pada mulanya metode ini diterapkan untuk menginterpretasikan teks-teks keagamaan, maka tidak heran jika tradisi tekstualitas masih tetap melekat, dalam arti masih mendudukan teks sebagai perhatian sentral. Sehingga langkah-langkah yang perlu diikuti dalam melakukan penelitian dengan pendekatan hermeneutik adalah sebagai berikut:

Telaah Atas Hakekat Teks

Di dalam hermeneutika, teks diperlakukan sebagai sesuatu yang mandiri, dilepaskan dari pengarangnya, waktu penciptanya, dan konteks kebudayaan pengarang maupun kebudayaan yang berkembang dalam ruang dan waktu ketika teks itu di ciptakan. Karena wujud teks adalah tulisan dan yang ditulis adalah bahasa, maka yang menjadi pusat perhatiannya adalah hakekat bahasa. Sebagaimana diketahui, bahasa merupakan alat komunikasi, alat menyampaikan sesuatu. Sebagai akibatnya, terdapat hubungan antara ‘alat penyampaian’ dan ‘apa yang disampaikan’. Tujuan dari metode ini adalah mengerti tentang apa yang disampaikan dengan cara menginterpretasikan alat penyampaiannya, yaitu teks atau bahasa tulis.

Dengan demikian, kemandirian teks yang dimaksud sebelumnya adalah kemandirian dalam semantik, yaitu interpretasi yang dilakukan harus melalui pendekatan sematik untuk mengerti pesan yang disampaikan oleh teks. Selain semantik, semiotik juga sering menjadi metode pendukung dalam hermeneutika; yaitu melihat teks sebagai sebuah tanda yang harus dimaknai.

  1. Proses Apresiasi

Proses ini, sesungguhnya adalah bentuk ketidakpuasan atas kebenaran tekstual. Karena itu, proses ini mencoba mengapresiasikan secara historis penulis atau pengarang teks. Menurut Dilthey, sebuah teks mesti diproyeksikan ke belakang dengan melihat tiga hal:

  1. Memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku sejarah yang berkaitan dengan teks.
  2. Memahami makna aktivitas mereka pada hal yang berkaitan langsung dengan teks.
  3. Menilai peristiwa tersebut berdasarkan gagasan yang berlaku pada saat teks tercipta.

Dengan demikian, seorang pembaca atau peneliti tidak dibiarkan tenggelam dalam lautan teks, tetapi juga harus menyelam ke dunia di mana teks diciptakan. Maka hingga di sini, pembaca akan memahami teks secara berbeda, karena wawasan masing-masing berbeda pula. Jika pembaca memiliki wawasan yang luas maka mungkin kebenaran yang akan diperoleh akan menjadi luas pula demikian juga sebaliknya.

  1. Proses Interpretasi

Inilah bentuk terakhir dari proses pengkajian dengan pendekatan hermeneutika. Ketika berhadapan dengan teks maka pembaca dinyatakan dalam situasi hermeneutika, yaitu berada pada posisi antara masa lalu dan masa kini, atau antara yang asing dan yang tak asing. Masa lalu dan asing karena tidak mengetahui masa lalu teks dan masa kini dan tak asing karena mengetahui teks yang sedang dihadapi.

Sebagai seorang yang menempati posisi antara, maka ia harus menjembatani masa lalu dan masa kini melalui interpretasi. Pembaca atau peneliti harus mampu menghadirkan kembali makna-makna yang dimaksudkan ketika teks dicipta di tengah-tengah situasi yang berbeda.

Agar benar-benar memperoleh interpretasi yang benar (sesuai dengan pencipta teks), maka pembaca atau peneliti juga dituntut memiliki kesadaran sejarah, karena salah dalam memahami sejarah maka proses hermeneutika akan menjadi keliru.

Ketiga proses di atas tidak dapat dipisahkan dalam tradisi hermenautika, karena hanya akan menimbulkan kebenaran apriori. Contoh: ketika mengabaikan salah satunya adalah sebagai berikut:

Sekedar sebagai illustrasi aktual, ketika Pramoedra Ananta Toer menerima penghargaan sastra dari Yayasan Magsaysay di Pilipina. Bagi Mochtar Lubis, yang juga pernah menerima penghargaan serupa, sangat keberatan terhadap Yayasan Ramon Magsaysay yang memberikan penghargaan tersebut. Alasannya, antara karya sastra dan karier politik pribadi Pramoedya sangat bertentangan. Meskipun karya sastranya memiliki semangat kemanusiaan dan perlawanan terhadap penjajahan, namun pengarangnya sendiri, semasa Orde Lama, kata Mochtar Lubis, berlumuran dosa kemanusiaan dan penindasan. Lalu, tanya Moctar Lubis, bagaimana seandainya nanti ada orang semacam Hitler menulis karya sastra yang mengutuk penindasan, apakah layak sang Hitler digelari tokoh kemanusiaan?.

Polemik semacam inilah yang menjadi problem tersendiri dalam dunia hermeneutika jika mengabaikan proses-proses di atas. Maka sekali lagi, teks, baik tulisan maupun simbol-simbol alam yang hadir di hadapan kita bukanlah satu-satunya pusat perhatian terbatas, tapi harus melampaui teks tersebut menjangkau esensi dan konteks kelahiran teks. Dengan kata lain, pembaca harus mampu berdialog dengan teks dengan segala hal yang dapat membantu pemahaman yang paling dekat kepada kebenaran.

Penutup

Berdasarkan keterangan di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa dalam rangka pemahaman teks, tiga model hermeneutik yaitu hermeneutik tradisional, hermeneutik dialektis, dan hermeneutik ontologis dihadapkan pada sejumlah kesulitan.

Kesulitan-kesulitan yang menjadi kendala dalam verstehen itu merupakan bukti adanya keterbatasan tugasnya. Adapun yang menyebabkan keterbatasan hermeneutika adalah semata-mata karena dalam ketiga model hermeneutika tersebut tak satu pun dapat melepaskan peran subjek dalam verstehen, sehingga masih terkesan adanya pengaruh subjektivitas. Oleh karena itulah, yang sampai pada kita terlihat adanya kegagalan hermeneutika dalam membawa sastra menjadi sebuah bentuk ilmu pengetahuan yang ilmiah.

Dalam hal ini hermeneutika bukan suatu metode yang sesuai untuk pemahaman teks yang mempunyai sifat-sifat sederhana serta merupakan bentuk objektivikasi jiwa manusia. Selanjutnya dikatakan, bahwa selama studi sastra didasarkan pada hermeneutika verstehen, maka pengetahuan tentang teks akan ketinggalan zaman. Pengertian tersebut menjadi nyata, bila rumusan pengetahuan mengenai teks tetap didasarkan pada pandangan positivisme, yang memandang sastra tak mampu membuat hukum-hukum seperti ilmu alam.

Dengan demikian pemahaman hermeneutika sebenarnya adalah seni membaca dan menafsirkan bacaan. Artinya ketika membaca dengan pendekatan hermeneutika, maka kebenaran pemahaman dalam bentuk interpretasi akan semakin mendekati korelasi positif dengan pemilik teks.

Meski sebagai ilmu seni membaca, hermeneutika sangat tepat jika digunakan dalam wilayah-wilayah kajian ilmiah, karena hermeneutika bukan saja pendekatan yang telah memiliki pijakan-pijakan filosofis, tetapi juga telah diformulasikan secara metodologis oleh para ilmuan sejak abad ke-18.

Hermeneutika sesungguhnya adalah sebuah pendekatan yang sangat menintikberatkan aspek pembaca, teks, pencipta dan konteks historis di mana pencipta hidup bersamaan dengan teks. dan korelasi tersebut akan melahirkan penafsiran yang sesuai dengan kehendak penulis.

Data Pustaka

  • Eliade, Mircea (Ed), The Encyoclopedia of Religion, Volume 7 (New York: Macmillan Publishing Company, 1993.
  • Hardiman, F. Budi (A), 1991, “Hermeneutik: Apa itu?” dalam majalah Basis, Januari, 1991.
  • __________(B), 1991, “Positivisme dan Hermeneutik: Suatu Usaha untuk Menyelamatkan Subjek” dalam majalah Basis, Maret 1991.
  • Hidayat, Komaruddin, Memahami Bahasa Agama Sebuah Kajian Hermeneutik. I; Jakarta: Paramadina: 1996.
  • ———, Tragedi Raja Midas Moralitas Agama dan Krisis Modernisme. Jakarta: Paramadina, 1998.
  • Jary, Devid [et.al.], The Harper Collin Dictionary of Sociology. New York: Harper Collin, 1991.
  • Majalah Gatra, nomor 46, tahun I, 30 September 1995, h. 20.
  • Megatsari, Noerhadi, “Penelitian Agama Islam” dalam M. Deden Ridwan (Ed.), Tradisi Baru Penelitian Agama Islam Tinjauan Antar Disiplin Ilmu. I; Bandung: Nuansa, 2001.
  • Nasr, Seyyed Hossein, The Islamic Intellectual Tradition in Persia. I; Britain: Curzon Press, 1996.
  • Sumaryono, E., Hermeneutika Sebuah Metode Filsafat. V; Yogyakarta: Kanisius, 1999.
  • Ricoeur, P. 1981. Hermeneutics and The Human Sciences, Essays on language, action and Interpretation. Cambridge: Cambridge University Press.
  • ————. 2002. The Interpretation Theory, Filsafat Wacana Membelah Makna dalam Anatomi Bahasa (terjemahan Musnur Hery). Yogyakarta: IRCiSOD

 

0 Responses to “Hermeneutika Sebagai Piranti Analisis Dimensi Nilai Budaya”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Hai … blogger,

Blog ini ingin menyajikan sosok Firman Lie sebagaimana adanya dia sebagai seorang perupa, seorang pendidik dan seorang manusia yang ingin bermakna pada kehidupan.

Foto Aktivitas

Doa-Kebahagiaan1

Pameran-berdua-di-Jambi

pameran-di-malaysia

pameran-di-japan-foundation

Metromini-2

pameran-tunggal-di-Japan-Foundation

horizontal

Simbol Ritual 2

kammaloka

Simbol Ritual 1

Lebih Banyak Foto

Jumlah Pengunjung

  • 12,812 pengunjung

%d blogger menyukai ini: